Topik PRESS TALK, pekan ini, yang ditayangkan Qtv Senin, 17 Des, pukul 23.00, siaran ulangan Rabu, 19 Des, pukul 17.00 dan tambahan di SWARA Jumat, 21 Des pukul 14.00, berjudul: Beralih ke Uang Rill atau Indonesia Tergadai. Hadir sebagai tamu A. Riawan Amin, Ketua Asosiasi Bank Syariah, Muhaimin Iqbal, Ketua Asosiasi Perusahaan Asuransi Syariah dan DR Hendri Saparini, Direktur Eksekutif ECONIT.
Latar topik ini antara lain: Bahwa sistem mata uang yang sekarang ada terindikasi kental membawa nafas ketidak-adilan.Arah kembali ke mata uang emas dan perak kini di banyak negara mulai menghangat. Apalagi setelah kian jatuhnya nilai dolar AS.
Kambing di zaman nabi Muhammad dulu seekor satu dinar (4,25 gram emas 22 karat). Kini seekor kambing yang besar juga tetap satu dinar. Sebaliknya dengan nilai uang kertas. penggelembungan nilai uang oleh sistem perbankan (giral) kian menggila. Dan membuat keadaan kian tidak berpihak kepada kepemilikan sumber daya alam, dan masyarakat kebanyakan.
Di Indonesia 37 juta jiwa penduduk miskin berpendapatan kurang dari Rp 180 ribu, sekitar US $ 20 saja perbulan. 150 orang terkaya menguasai APBN lebih dari 50 persen. Angka penggaguran masih di atas 30 juta.<?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />
Kebijakan moneter berbunga tinggi mengimingi pemilik modal tidak lari membuat biaya mahal. Bank <?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />Indonesia memberi bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), membuat dana dari berbagai daerah mengendap tidak produktif. Angkanya lebih Rp 60 triliun pertahun. Sektor riil seakan jalan di tempat.
Laporan wartawan, anggota PWI-Reformasi di daerah, aksi melego Sumber Daya Alam kian hari kian kencang saja. Di sebuah kabupaten di Kalimantan Timur, lahan berdeposit batubara mencapai 50 juta ton, izin konsesinya dijual cuma Rp 20 miliar kepada asing. Padahal di dalam tanah Kalimantan itu beragam kekayaan hayati ada. Beragam mineral hingga uranium bukan mustahil sedikit. Izin tambang dikapling-kapling lalu dilego demi lembaran kertas yang disebut uang.
Lengkapnnya gambaran talk show yang dikemas dengan topik berbeda dan host yang cuma BERTANYA (bukan "menselebriti") dapat dilihat di www.iwanpiliang.blogspot.com.
Juga ada pooling soal PT Asian Agri yang terbukti menggelapkan pajak Rp 1,3 triliun, tetapi mengobok-obok wartawan TEMPO Metta Dharmasaputra, dengan penyadapan telepon, isu menerima uang, kini dengan membayar UI dan UGM menguji konten penulisan TEMPO terhadap penulisan kelompok Raja Garuda Emas.
Wassalam,
iwan piliang
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. __._,_.___
========================================
Kunjungi SUPERKORAN: www.apakabar.ws
& Forum Apakabar: http://apakabar.ws/forums
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest ([email]apakabar-digest@yahoogroups.com?subject=Email Delivery: Digest[/email]) | Switch to Fully Featured
Unsubscribe ([email]apakabar-unsubscribe@yahoogroups.com?subject=Unsubscribe[/email])
__,_._,___
dikirim dari Forum Apakabar di web:http://forums.apakabar.ws
Ikutilah 6500 anggota di Forum

